![]() |
| SerbaHot |
Cerita Dewasa Mesum Tante - Kembali lagi bersama kami Seperti biasa kami selalu
menghadirkan dan mengupdate cerita dewasa kami. Yang Pastinya akan
membuat anda geli-geli basah dan panas. Tentunya kami hadirkan untuk
anda seluruh para pembaca setia kami tanah air. Tanpa banyak basa-basi
lagi langsung saja kita HAJAR!!! Brooo Cerita Dewasa kami di bawah ini .
Saat itu suasana di pagi terasa sejuk mentari terlihat indah indahnya
seperti wajah tante Githa yang Gua lihat dia sedang menyirami bunga di
tamannya, dia Nampak serius menikmatai keindahan bunganya, Gua yang
habis mandi dan menyeduh teh sambil menghirup udara segarnya,
Gua menghampiri tante Githa hanya untuk sekedar menyapa.
“Selamat pagi tante Githa, serius banget memperhatikan bunganya” sapaku.
Dia masih cuek tanpa membalas pertanyaanku yang pertama, Gua sapa dia lagi dengan kata kata.
“Mau gak Gua buatkan teh” Jawab singkatnya “Ndak usah”
Hmmmm oya dah tan”dilanjut aja jawabku.
Dalam hatiku biasanya pagi pagi hari minggu kelompok tante tante sedang
lari pagi , tapi hari ini kok Gua tidak melihatnya??fikirku dalam hati.
Gua kmbali mmperhatikan tante Githa yg membelakangiku. Mulai dari
betisnya yg putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yg lebih mulus
dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut clana pendek, namun trlihat
jelas lekukannya.
” Coba dia bisa Gua tiduri seperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati.
Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Githa trhuyung lemah
ingin trsungkur. Dengan cepat Gua mloncat dan memegangi tubuhnya yg
nyaris trsungkur itu, meninggalkan sisa lamunan cabulku.
Gua rangkul tubuhnya yg mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan
tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, sraya mmapah tubuh tante Githa.
“Kepalaku trasa pusing Fad” jawab tante Githa lemah.
“Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah.
“Akhirnya Gua bisa mrangkulmu” ucapku dalam hati.
Ada sejuta kebahagian dihatiku karena mampu merangkul tubuh si angkuh
tersebut. Setelah berada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante
Githa disofa ruang tamu.
Dengan mearik nafas tante Githa duduk dan brsandar pada sandaran sofa.
Stelah itu Gua melangkah mninggalkannya sendiri. Tak brapa lama
Gua kembali dengan sgelas air hangat dan menghampiri tante Githa yg
tengah bersandar disandaran sofa.
“Minum dulu tante, biar enakan!” ujarku sambil menyerahkan gelas berisi
air hangat yg kubawa. Tante Githa pun mminum air hngt yg kuberikan.
“Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yg ada didepannya.
“Kpalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku.
Tante Githa hanya mnganggukan kpalanya.
“Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi.
“E, em” jawab tante Githa perlahan seakan tengah menahan sakit. Gua pun
sgera memijat mulai dari kepalanya dengan perlahan lahan, kemudian
dahinya yg dia bilang merupakan pusat rasa sakitnya.
“Wah, kenapa tante Fad!?” tanya Nita yg baru saja pulang.
“Tadi si tante hampir jatuh, kepalanya pusing Nit!” jawabku.
” Terlalu capek kali!? ” ujar Nita sambil melangkah kedapur.
“Dah aga mendingan Fad” jelas tante Githa dengan mata terpejam,
menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya bersamaan dngn
rasa hangat yg menjalari tubuhku.
Harum aroma tubuh tante Githa terasa mnusuk kedua lobang hidungku. Membuat Gua ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dngnnya.
“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai.
“Iya kali? “ujarnya pula, seakan mengerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh.
“Mau dikerokin ga!?” tanyaku dngn penuh haraf kepadanya.
“Memang kamu bisa!?” tante Githa balik bertanya. Membuat hatiku trasa brdebar tak karuan.
“Ya bisa… ” jelasku dengan cepat, takut tante Githa brubah fikiran lagi.
“Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Githa. Membuat
hatiku brdebar makin cepat. Dengan perlahanku papah dia melangkah menuju
kamarnya. Gua pun berusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku.
Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku. Setelah brada didalam
kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Githa pun
mrebahkan tubuhnya sraya brnafas panjang. Seolah olah ada beban berat yg
dibawanya.
Gua sgera berlalu mengambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh
tante Githa. Stelah kudapati smua yg kubutuhkan, Gua kembali mnghampiri
tante Githa yg tengah menanti. Dengan membranikan diri Gua memintamya
agar dia melepaskan pakaian yg dipakainya.
Dia pun perlahan melepaskan pakaian atau baju yg dipakainya. Shingga
tante Githa kini hanya mngenakan bra yg berwarna pink dan celana pendek
saja. Ada getaran hangat menjalari seluruh tubuhku, saat menyaksikan
tante Githa mmbuka bajunya.
Hingga membangunkan kejantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah
mengendap dibenakku sejak awal, ketika memprhatikan dia ditaman.
Dengan perasaan yang tak menentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Gua pun
mulai mengusap …..usap punggung mulus yang memblakangiku, dngn hati hati
sekali.
“Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku pnuh haraf sambil trus
mengusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya
lirih.
Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli Gua tak tau. Yang
pasti tanganku segera melepaskan kait tali branya, sehingga membuat
branya melorot menutupi sebagian payudaranya yang bulat dan berisi.
Sperti payudara milik gadis kebanyakan.
Stelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, Gua pun membalurinya dngn
minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung
tante Githa. Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yg
brusaha ditutupi dngn bra dan kedua tlapak tangannya.
Sementara tante Githa hanya terdiam sraya memejamkan matanya yg bulat dan indah.
” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dngn mata yg trpejam.
Tiba tiba pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah brdiri dimuka pintu.
“Tan Gua mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan sraya matanya melirik kearahku.
” balas tante Githa tanpa berpaling kearahnya.
Kemudian secara perlahan Nita menutup pintu kembali dan berlalu pergi.
Jari tanganku mulai nakal terhadap tugasnya, jariku terkadang nyelinap
dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yg bulat dan padat brisi yg
ditutupinya.
Tapi tangan tante Githa terkadang brusaha menghalanginya, dengan merapatkan pangkal lengannya.
“Jari kamu nakal ya Fad!? ” ucap tante Githa stengah berbisik seraya mlirik ke arahku.
Membuatku tersipu malu.
“Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur.
Tapi tante Githa malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak
polos tanpa plindung lagi. Dan langsung menjadi santapan kedua mataku
tanpa brkedip.
Langsung membuat hatiku brdebar debar menyaksikan pemandangan trsebut.
“Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Githa tak lagi
mnutupit buah dadanya dngn kedua tlapak tangannya lagi. Jantungku trasa
bgitu cepat brdetak dan mmbuat lemas sluruh prsendianku.
Kontolku brlahan tapi pasti mulai brdiri tegak mngikuti dorongan
hasratku. “Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Githa
mngingatkanku.
Mmbuat Gua sgera mlanjutkan prkerjaanku yg trtunda sesaat. Hampir sluruh
bagian belakang tubuh tante Githa telah kukerik dan brwarna merah
brgaris garis. Hanya bagian bokongnya yg luput dari kerikanku karna
trhalang dngn clana pendek serta CD yg dikenakannya.
Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin. Akhirnya pekerjaanku
selesai juga. Kemudian dngn prlahan jari jariku memijati pundaknya.
Tante Githa mnundukan kepalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari
mulutnya. “Sudah Fad!” perintahnya, agar Gua menyudahi pijatanku.
Dengan prasaan malas Gua pun mnghentikan pijatanku dan segera
membersihkan sisa sisa minyak dikedua telapak tanganku.
” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Githa sekaligus
perintah. Gua pun beranjak pergi kekamar mandi yg memang ada didalam
kamar trsebut. Stelah usai mncuci sluruh tanganku hingga bnar bnar
bersih.
Gua pun kembali menghampiri tante Ivon yg tengah telentang diatas
ranjang masih dngn keadaan separuh bugil. Seperti saat Gua tinggalkan
kekamar mandi. Hingga payudaranya yg bulat dan brisi nampak membusung
besar didadanya, dengan puting yang brwarna coklat susu.
“Ayo Fad, kamu mau mainin ini kan!?”.
Gua juga mau kok!?” ucap tante Githa sambil meremas salah satu
payudaranya hingga putingnya mnonjol kearahku. Gua pun mendekat
menghampirinya dengan perasaan nafsu. Membuat kontolku kian brdiri dan
mngeras kencang dibalik clanaku.
Gua pun tak mnunggu lebih lama, sgeraku remasi payudaranya yg mnantang.
Tante Githa brgelinjang saat tlapak tanganku mndarat dan meremas kedua
payudaranya.
” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku kian liar mremasi sluruh daging bulat yg padat brisi.
JariQ juga memainkan putingnya yg mulai mngeras.
” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Githa dengan nafas taj
tratur. Gua pun sgera mnjilati dan mengisapi puting payudaranya.
“Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Githa sraya mmegangi kepalaku.
Gua smakin brnafsu dngn puting yg kenyal sperti urat dan mnggemaskan.
Smentara tante Githa smakin mndesah tak karuan.
Baca Juga : Cara Memperbesar Penis
Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Githa.
Hingga jari jariku trasa mnyentuh rumput halus yg cukup lebat
didalamnya. Tante Githa mmbuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha
masuk kedalam lobang yg ada ditengah bulu bulu halus miliknya.
“Aowww…” jerit kecil tante Githa saat telunjukku berhasil memasuki
lobang memeknya. Dia pun menggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu.
Smentara kontolku smakin mngeras hendak kluar dari bahan yg mnutupinya.
Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Githa, hingga
lobang itu mulai trasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante
Githa menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya.
“Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Githa. Gua pun
menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari
mulutku. “Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Githa sraya bangkit dan
mlepaskan clana pendek serta CDnya.
Shingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yg
baru saja ku obok obok. Gua pun mlepaskan smua pakaianku dan bugil
sperti dirinya. Dengan senyum manis kearahku, tante Githa mendekat dan
brjongkok tepat didepan slangkanganku.
“Aouw, gede banget..!!” seru tante Githa sraya tlapak tangannya mraih
kontolku yg telah brdiri dan keras. Dngn tangan kanan dia mmegang erat
batang kontolku, sedangkan tlapak kirinya mngelus elus kpalanya.
Hingga kpala kontolku trasa brdenyut hangat. Kmudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya sraya matanya mlirik ke arahku.
“Agghhh… “Gua mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam
mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku.
Gua hanya dapat memegangi kpala tante Githa, mremas serta mngusap usap
rambutnya yg ikal sebahu. Smentara tante Githa smakin liar, sbentar
mngulum dan mngemud seakan dia ingin melumat sluruh kontolku.
Trnyata dia lebih buas dari tante Rita. Trkadang dia mnjilati dari batang hingga lobang kencing dikpalanya.
” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan tramat. Trasa tubuhku
melayang jauh tak menentu. Entah brapa lama tante Githa mngemut, mnjilat
dan mngulum kontolku. Yg jelas hal ini mmbuat tubuhku brgetar dan
hampir kejang.
” Gantian dong tan, aQ juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak
mampu mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak.
Agar tante Githa mandi dngn air maniku. Tante Githa sgera bangkit brdiri
meninggalkan kontolku yg masih brdiri tegak. Kmudian Gua mminta agar
dia duduk dikursi tanpa lengan yg ada. Gua pun brjongkok mnghadap
memeknya yg dihiasi bulu lebatnya.
Kedua kaki tante Githa trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai
mnjarah memek yg tlah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas
lobang memek yg brwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai mnjelajahi
dan mnjilati lorong itu.
“Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Githa saat lidahku brmain mnjilati lobang memeknya.
“Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh,
aghhhh” rintihnya pula sambil mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku.
Lidahkupun smakin liar dan brusaha masuk lebih dalam lagi.
“Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante
Githa tak karuan. Lidahku brhenti mnjilati dinding lobang memek, kini
brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg
brwarna merah dan basah dngn air mazinya dan air liurku.
“Aughh…..” suara tante Githa sperti tersedak sambil mrapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya.
” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Githa lirih.
” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Githa sraya mndorong kpalaku dngn kakinya yg trkulai lemas dibahuku.
Gua pun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Githa dan bangkit
brdiri dihadapannya dngn kontol yg masih tegak dan keras. Kemudian
mminta tante Githa agar bangkit dari duduknya. Kini Gua yg mnggantikan
posisinya duduk dikursi.
Tante Githa naik keatas pahaku dan tubuhnya mnghadap kearahku, hingga
tubuh kami saling brhimpitan. Kmudian tante Githa mmbimbing kontolku
masuk kelobang memeknya dngan jarinya.
” Aagghhsss.” rintih kecil tante Githa ketika kontolku masuk menusuk
memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek
kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dngn mmegangi pinggulnya
mmbantu bokongnya turun naik.
” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh,
yaaa ” racau tante Githa tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan
kontolku dimemeknya.
“Aauwww, Gua ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Githa
sraya mnggerakan bokongnya dngn cepat. Gua pun mmbalas reaksinya, dengan
melumat lagi payudaranya
“Aaaaaawhhh……..”erang tante Githa sambil mnekan bokongnya lebih rapat
dengan slangkanganku. Gua pun mengejang mnahan tekanan bokong tante
Githa.
“Aaaachhhh…….” akhirnya Gua tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari
dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dngn erat beberapa saat dngn
brcampur peluh masing masing.



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam id libero non erat fermentum varius eget at elit. Suspendisse vel mattis diam. Ut sed dui in lectus hendrerit interdum nec ac neque. Praesent a metus eget augue lacinia accumsan ullamcorper sit amet tellus.
0 komentar:
Posting Komentar